Featured

Hello!

Selamat datang di blog saya yang baru! Tulisannya memang sudah banyak banget, tapi hampir semua itu pindahan dari blog saya yang lama di Tumblr. Alhamdulillah blog ini sudah diedit sana sini, tapi mohon maaf kalau masih ada tulisan-tulisan terdahulu yang masih menyebut kata ‘Tumblr’ padahal ini udah di platform yang berbeda. Postingan disini udah lebih dari 500 tulisan, jadi mohon maaf apabila ada yang terlewat dan tidak diedit. Harap maklum! 😀

Selamat menikmati blogku ini!

 

Review: Inside Out (2015)

Poster Inside Out. Source: https://www.pixar.com/feature-films-launch

Genre: Animasi, fantasi, keluarga, komedi

Perusahaan produksi: Pixar Animation Studios, Walt Disney Pictures

Sutradara: Pete Docter

Produser: Jonas Rivera, p.g.a.

Penulis cerita: Pete Docter, Ronnie Del Carmen

Durasi: 94 menit

Tanggal rilis: 18 Mei 2015 (Festival Film Cannes), 19 Juni 2015 (Amerika Serikat), 19 Agustus 2015 (Indonesia)

Sinopsis

Film ini diawali dengan munculnya Joy (riang) dan Sadness (sedih) dalam diri seorang bayi bernama Riley. Lalu, satu per satu emosi lain pun datang seiring tumbuhnya Riley: Anger (marah), Fear (takut), dan Disgust (jijik). Kelima emosi tersebut memiliki perannya masing-masing. Joy selalu berpikiran positif dan berusaha agar Riley selalu bahagia. Fear membuat Riley merasa aman. Disgust menjauhkan Riley dari keracunan secara fisik maupun sosial. Anger begitu peduli pada kesetaraan dalam kehidupan Riley. Sayangnya, tidak ada yang tahu peran Sadness. Joy merasa Sadness “tidak berguna” karena hanya membawa kesedihan untuk Riley, bertolak belakang dengan apa yang Joy lakukan.

Kehidupan Riley berubah ketika dirinya berusia 11 tahun. Riley dan keluarganya harus pindah dari Minnesota ke San Francisco karena pekerjaan ayahnya. Lingkungan yang asing membuat Riley—dan tentu saja kelima emosinya—kesulitan untuk beradaptasi. Keadaan semakin rumit ketika Sadness memegang bola memori dan mengubah warnanya dari kuning (kenangan indah) menjadi biru (kenangan sedih). Perubahan warna itu berdampak besar pada kehidupan Riley sehingga muncul bola core memory yang baru dan berwarna biru. Joy tak ingin core memory tersebut membentuk kepribadian Riley sehinggga ia segera mengirimkan bola tersebut ke area Long Term Memory. Sayangnya, Joy dan Sadness ikut terbawa ke area Long Term Memory bersama seluruh core memories yang ada. Tanpa Joy dan core memories di dalam headquarters—pusat pengendalian emosi—, Riley tidak bisa bahagia. Bisakah Joy, Sadness, dan seluruh core memories kembali ke headquarters?

Sadness ketika mengubah warna bola memori menjadi biru. Source: https://www.pixar.com/feature-films/inside-out
Continue reading “Review: Inside Out (2015)”

Rumah terhadap Lingkungan

Semua pekerjaan dan kegiatan yang kita lakukan tentu harus dapat bertanggung jawab atas dampak yang ditimbulkannya terhadap lingkungan. Dressmaker harus memikirkan bagaimana mengolah sisa kain yang ada. Guru harus memikirkan bagaimana materi bisa disampaikan kepada siswa tanpa harus memberi kertas-kertas diktat atau fotokopian. Pedagang online pun harus memikirkan untuk membungkus paket dengan bahan-bahan reuse atau dengan bahan ramah lingkungan. Tidak ada pekerjaan yang tidak bertanggung jawab pada lingkungan, termasuk pekerjaan saya sebagai arsitek.

Continue reading “Rumah terhadap Lingkungan”

Masyarakat Peduli Lingkungan

Salah satu dampak positif dari berkembangnya teknologi adalah kemudahan masyarakat dalam memberikan dan mendapatkan informasi. Terkadang, kita tidak perlu dengan sengaja mencari berita, malah berita itu datang dengan sendirinya. Saya bisa tahu adanya krisis lingkungan hanya karena saya sedang asyik scrolling media sosial lalu tak sengaja melihat teman saya sedang menjelaskan masalah krisis tersebut.

Kemudahan masyarakat memberikan informasi membuat para penggiat lingkungan mulai speak up di media sosial. Satu per satu komunitas peduli lingkungan bermunculan. Beberapa komunitas tersebut tidak hanya sibuk menggembar-gemborkan apa yang sudah terjadi di lingkungan dan di bumi ini, tetapi juga memberi solusi kepada masyarakat. Ada komunitas yang menerima sampah anorganik untuk didaur ulang, ada yang menerima minyak jelantah untuk diolah menjadi biodiesel atau sabun, ada juga yang menerima sampah pospak (popok sekali pakai) untuk diolah menjadi media tanam dan bahan bangunan, dan ada juga yang memberikan solusi dengan membuka bulk store demi mengurangi pemakaian plastik refill.

Continue reading “Masyarakat Peduli Lingkungan”

Me Time

Sejak saya menikah, saya tahu bahwa saya harus hidup mandiri. Pertama, saya dan suami tinggal di kota yang jauh dari orang tua dan saudara lainnya. Kedua, pekerjaan suami membuat kami hanya bisa bertemu di malam hari. Jika ada sesuatu yang terjadi, apalagi di saat suami masih kerja, saya tidak bisa mengandalkan siapa-siapa selain diri saya sendiri. Saya ingat dulu, setiap saya kontrol kehamilan, hampir bisa dipastikan saya pergi sendiri ke rumah sakit. Bahkan, ketika saya sempat mengalami pendarahan saat hamil trimester awal, saya pergi ke IGD sendirian dengan mengandalkan taksi online. Saat itu, suami baru bisa datang ke rumah sakit dua jam kemudian, mengingat letak kantor yang sangat jauh dan macetnya ibu kota saat pulang kantor. Bagaimana kelanjutan cerita pendarahan saya? Baca tulisan lama saya ya di sini.

Kehidupan saya berubah drastis ketika Sena lahir. Saya tipe orang yang sangat senang bepergian, bahkan sekadar pergi ke minimarket. Saya juga sangat senang bertemu teman-teman saya. Akan tetapi, kedua hal itu sulit saya lakukan ketika status saya sudah berubah menjadi seorang ibu. Selama tiga bulan pertama, saya hampir tidak pernah pergi ke luar rumah kecuali untuk kontrol Sena ke dokter. Saya juga tidak ada teman untuk ngobrol. Saya hanya bisa sesekali ngobrol dengan suami karena saat suami pulang kerja, suami sudah sangat kelelahan dan lebih memilih untuk langsung istirahat. Perubahan drastis ini membuat saya stres dan mengalami Postpartum Depression.

Continue reading “Me Time”

Suasana yang Dirindukan

Saat saya masih kecil, tiap hari Minggu selama satu-dua kali dalam sebulan, saya dan keluarga akan makan siang bersama. Kami tidak pergi ke luar, kami tetap makan siang di dalam rumah. Yang berbeda hanya suasananya. Jika sebelumnya kami makan di meja makan, sekarang kami makan lesehan beralaskan tikar atau karpet. Jika sebelumnya kami makan sendiri-sendiri, sekarang kami harus makan bersama-sama. Bisa dibilang, kami sedang “piknik” di dalam rumah.

Continue reading “Suasana yang Dirindukan”