Satu Bulan di Empat Negara

Alhamdulillah bulan ini saya bisa ikut Tantangan Blogging Mamah Gajah Ngeblog kembali. Tema kali ini adalah Pengalaman Travel Yang Berkesan. Wah, pikiran saya langsung melanglang buana ke masa lalu. Saya suka sekali bepergian, tetapi kesempatan untuk jalan-jalan mungkin tidak sebanyak teman-teman yang lain. Tempat yang pernah saya kunjungi mungkin masih bisa dihitung jari tangan ditambah jari kaki. Walau begitu, ada satu perjalanan yang paling berkesan yang bikin saya ingin mengulangnya kembali: Backpacking di Empat Negara Asia Tenggara Selama Satu Bulan.

Dari kalimatnya saja mungkin sudah terbayang seperti apa perjalanan tersebut. Backpacking diartikan dengan jalan-jalan hanya dengan membawa satu tas saja. Namun, biasanya orang-orang mengartikan backpacking dengan perjalanan mandiri. Semuanya diurus sendiri: transportasi, penginapan, tempat makan, dan tempat-tempat yang harus dikunjungi. Itulah yang saya dan teman saya lakukan.

Saigon Notre Dame, tempat yang saya kunjungi di Vietnam

Budget Selama Perjalanan

Karena semuanya diurus sendiri, kami bisa menekan budget pengeluaran. Percayakah bahwa pengeluaran kami per orang hanya 88 USD untuk tiket pesawat dan 600 USD untuk bekal perjalanan selama sebulan penuh? Kok bisa?

Rajin Mencari Tiket Promo

Dulu, salah satu teman saya rajin sekali mantengin promo-promo dari Airas*a. Saat saya sedang mengerjakan Tugas Akhir, dia menghubungi saya dan memberi tahu bahwa ada tiket promo yang kayaknya bisa dibeli. Kami langsung “meeting” dadakan, merencanakan kapan dan ke mana kami akan pergi. Setelah deal, kami segera membeli tiketnya agar tidak kehabisan. Inilah tiket yang kami beli.

Biaya tiket pesawat

Dua tiket kami beli dengan mata uang MYR karena harganya lebih murah dibandingkan dengan membeli dengan mata uang sendiri. Kami juga menyiasati biaya tiket dengan transit terlebih dahulu di Kuala Lumpur. Lagipula, jika kami mau direct menuju Vietnam, kami harus terbang dari Jakarta. Sudahlah lebih mahal, lebih repot pula.

Ohya, seperti tiket-tiket promo pada umumnya, harganya memang murah, tetapi jadwal penerbangannya hanya untuk rentang waktu tertentu dan biasanya untuk tahun berikutnya. Saya membeli tiket pada bulan April 2013, tetapi perjalanannya dimulai bulan Januari 2014. Agak susah memang apabila menentukan jadwal dari sebelum membeli tiket. Ketika promo muncul pun kita harus segera membeli tiketnya agar tidak kehabisan. Walau begitu, perjuangan mendapatkan tiket promo sebanding dengan harganya, kan?

Datang ke Bangkok saat sedang ada demo besar-besaran

Couchsurfing untuk Mencari Penginapan

Ada yang sudah tahu apa itu Couchsurfing (CS)? Penjelasan panjangnya mungkin nanti di lain waktu saja, ya. Pada intinya, kami memanfaatkan CS ini untuk mencari warga lokal yang memperbolehkan kami menginap di rumahnya sementara waktu dengan cuma-cuma alias gratis-tis-tis! Asyik, kan! Kita bisa berkenalan dengan warga lokal, mendapat info lebih banyak tentang daerah tujuan yang tidak diketahui banyak orang, dan tentu mendapat tempat menginap gratis. Jika diperbolehkan, kita juga bisa ikut makan bersama mereka (dengan gratis pula).

Jika kalian tertarik dengan CS, kalian bisa membuat account CS terlebih dahulu (mirip seperti Facebook), isi profil, lalu mulai mencari CS di daerah tujuan. Mencari CS ini dilakukan sebelum perjalanan, ya! Selain nantinya tidak repot mencari penginapan saat perjalanan, CS yang nanti menerima kita bisa bersiap-siap terlebih dahulu.

Saya bersama Dzung (tengah), CS saat di Saigon, Vietnam, dan temannya, Truc (kiri)

Rute Perjalanan

Perjalanan kami dimulai pada tanggal 8 Januari 2014 dari Bandung menuju Kuala Lumpur dan perjalanan dilanjutkan pada keesokan harinya menuju Vietnam. Selama sebulan, kami melakukan perjalanan darat dari satu kota ke kota lain. Kota yang pertama kali dikunjungi adalah Hanoi lalu dilanjutkan menuju kota Danang, Dalat, dan terakhir kota Saigon (Ho Chi Minh City).

Border antara Vietnam dan Kamboja

Dari Saigon, kami menuju border dan tibalah kami di Kamboja. Di Kamboja, kami hanya mengunjungi dua kota, Phnom Penh dan Siem Reap. Dari Siem Reap, kami menuju border Thailand dengan menggunakan bis. Kota pertama yang kami kunjungi di Thailand adalah Bangkok, lalu dilanjutkan menuju Phuket, dan berakhir di Krabi.

Untuk menuju border Malaysia, kami harus menuju kota Hat Yai barulah kami bisa menyeberang menuju kota Padang Besar, Malaysia. Kami hanya transit di kota ini dan melanjutkan perjalanan keesokan harinya menuju kota Butterworth. Dari Butterworth kami naik kapal ferry menuju kota Penang. Penang adalah kota terakhir di perjalanan ini. Kami pulang ke Jakarta pada tanggal 8 Februari 2014.

Itinerary selama perjalanan

My Favorit Place

Dari beberapa kota yang saya datangi, pemandangan kota Dalat, Vietnam, selalu muncul dalam benak saya. Selama perjalanan, saya tidak menemukan kota secantik Dalat. Mata dimanjakan dengan bunga-bunga yang bermekaran hampir di setiap sudut kota. Julukan Kota Kembang mungkin lebih cocok untuk kota ini dibandingkan kota Bandung. Bunga di kota ini tidak hanya untuk dipandangi saja tetapi juga diolah menjadi makanan! Salah satu street food yang sempat saya coba memakai bunga di dalamnya.

Foto bunga di sudut kota.
Salah satu taman di kota Dalat

Unforgettable Moment

Perjalanan selama sebulan tentu menciptakan banyak memori yang tidak bisa dilupakan. Kami pernah berbicara dengan bahasa tubuh karena yang diajak berbicara tidak bisa bahasa Inggris. Kami juga pernah bertemu dua orang yang kisahnya persis seperti film Before Sunrise. Kami pun pernah nyasar karena asal naik bis. Namun, memori saat saya berada di kota Siem Reap, Kamboja adalah pengalaman yang paling berkesan.

Tidak seperti biasa, kami tidak menginap dengan gratis saat tinggal di rumah Sokhom. Hanya saja, biaya yang kami keluarkan akan dipakai oleh Sokhom untuk membangun Angkor’s Tree School, sekolah belajar bahasa Inggris yang diperuntukan bagi anak-anak kurang mampu. Pengajarnya adalah Sokhom sendiri dengan volunteer dari CS.

Angkor’s Tree House

Saya, yang lemah bahasa Inggris ini, tiba-tiba harus mengajari anak-anak berbahasa Inggris. Keren banget, ga? Hahaha. Pelajarannya cukup mudah, kok. Saat itu kami hanya mengajarkan vocabulary dengan huruf depan A-B-C. Kami meminta murid-murid menuliskan kata yang mereka tahu secara bergantian di papan tulis.

Pada huruf “C”, salah satu anak menulis kata “cap“. Saya tanya murid yang lain apa mereka tahu “cap” itu apa dan ternyata banyak yang tidak tahu. Saya menjelaskannya dengan menggambar topi di papan tulis. Di sinilah miskom terjadi. Mungkin mereka tidak mengerti maksud saya, sehingga mereka malah mengira harus menggambar dari kata-kata yang sudah ditulis tadi πŸ˜… Mereka semangat sekali! Melihat mereka sangat antusias, kami akhirnya membiarkan mereka menggambar di papan tulis. Gelak tawa muncul saat gambar yang mereka buat terlihat aneh di mata teman yang lain.

Mengajarkan vocabulary kepada anak-anak sambil menggambar

Di hari berikutnya, kami mengajarkan lagu anak-anak berbahasa Indonesia. Lagu yang terpikirkan saat itu adalah Naik-Naik ke Puncak Gunung. Kami tulis liriknya di papan tulis, lalu Sokhom menuliskan pelafalannya dengan aksara Khmer. Kami pun bernyanyi bersama.

Lagu Naik-Naik ke Puncak Gunung dengan tulisan aksara Khmer. Kanan atas: salah satu teman jalan-jalan saya (yang sekarang jadi suami #eh #gapenting)

Kami di Siem Reap hanya dua hari. Sedih rasanya harus meninggalkan murid-murid di sana. Mungkin karena kami dan mereka berasal dari budaya yang sama, kami cepat sekali akrab dengan mereka. Kami main kejar-kejaran, main sepeda bersama, dan juga bermain lompat tali. Saking akrabnya, salah satu volunteer lain mengira saya sudah berbulan-bulan tinggal di sana. Ah, saya harap kami bisa kembali mengunjungi kota tersebut dan berharap bisa bertemu mereka lagi. Amin!

Saya dan murid-murid saya

Kira-kira seperti itulah cerita singkat perjalanan berkesan saya. Saya sempat menuliskan detail perjalanannya di blog ini, tetapi tidak bisa saya tulis link-nya di sini karena tulisannya masih berantakan dan sulit dibaca, hehe. Saya berniat untuk menulis ulang semuanya. Doakan semoga sempat, ya!

Terakhir, saya berharap bisa backpackingan lagi. Apakah mungkin backpacking setelah punya anak? Semoga bisa!

Even mighty day turns to night, but still the sun will rise again. The journey ends for today, but we know someday we will fly again – Paksu

12 thoughts on “Satu Bulan di Empat Negara

  1. Wah saya tersepona dengan foto bunga warna biru keunguan di kota Dalat yang berpetal 6 dan bentuknya panjang-panjang begitu. Subhanallah sungguh indah ciptaanNya. Bunga apa itu ya??

    ‘Makan bunga’?? Rasanya seperti apa itu? Ehehe. kenapa jadi ingat seorang artis terkenal (alm) Suzanna ya. Ehehe.

    Like

    1. Wah bunga apa ya, td gugling sih katanya bunga African Lily, entah bener jenis Lily itu atau Lily yg lain. Sebetulnya sih bunganya ga terlalu kerasa, dicampur ke dalam adonan trus dibikin semacam crepe. Saya jg ga sempet nyoba makanan yg lain, mungkin klo makanan lain rasa bunganya lebih terasa

      Like

  2. Halo Teteh, seru banget ceritanya, dan saya setuju, Dalat itu memang cakep banget.
    Semoga bisa backpackingan lagi ya, bisa kok backpackingan sama anak, serunya nambah πŸ™‚

    Like

  3. Wah seru banget ini! Bisa jalan-jalan sebulan penuh dengan berbagai pengalaman sampai mengajar anak-anak juga.D Ditunggu tulisan versi yang lebih teratur dari perjalananya. Hebat catatan rute perjalanannya masih lengkap, hehehe…

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s